Honesty


Setiap kali aku berjumpa denganmu, hanya diamku yang menyapamu. Ya. Selalu mataku berpaling menghindarimu. Meski sebenarnya aku sungguh mengharapkanmu. Aku akui aku tak memiliki keberanian hanya sekedar untuk menyapamu atau bahkan melihatmu. Apalagi menyuarakan kepadamu apa yang selalu aku sembunyikan darimu. Ku akui kembali aku egois. Aku memang egois. Sangat egois. Seolah-olah aku menyembunyikan rasaku kemudian memaksamu, menuntutmu untuk menemukan sesuatu yang kusembunyikan. Tanpa mau tahu apa kamu ingin mengetahuinya atau tidak. Aku memang manusia egois. Yang mengharap kamu selalu mengerti semua hal yang tak pernah kujelaskan. Aku pun manusia yang menyedihkan. Mengharap sesuatu kepada orang yang tak ingin memberi sesuatu tersebut kepadaku. Mengharap kamu membalas perasaan yang kuberi kepadamu meskipun kamu tak memintanya. Sungguh menyedihkan. Aku selalu berkhayal dan mengarang cerita seolah-olah kamu adalah milikku, kita saling mencintai. Sangat bertolak belakang dengan fakta yang ada. Yang mana kamu mungkin tak mengenalku. Betapa menyedihkannya... Aku banyak berharap kepadamu, namun aku tak mempunyai keberanian memintanya langsung darimu. Sebenarnya aku ini manusia jenis apa? Selalu meminta tapi tak mau bicara. Selalu ingin bertanya tapi enggan mengeluarkan suara. Selalu ingin dilihat tapi selalu menghilang. Sungguh amat sangat menyedihkan! Aku pun merasa muak pada diriku sendiri.

Komentar