16:40 11/01/2019 Menara Cinta - Istikharah Cinta Zalfa
Ya Allah.. Jadikanlah aku ikhlas pada keputusan-Mu hingga aku tidak mempercepat sesuatu yang Engkau tunda dan tidak menunda sesuatu yang Engkau segerakan. Ya Rabbul Izzati.. Cintakanlah aku kepada seseorang yang juga mencintai-Mu, yang Engkau cintai, sehingga ia akan membimbingku untuk selalu mencintai-Mu. Ya Rahman, Ya Rahiim.. Jika ia belum menemukanku, buatlah ia menunggu di situ, dan biarkan aku menemukannya dalam istikharahku.
Wahai Tuhan Pemilik Hati.. Seandainya aku mampu sebentar saja melihat catatan kehidupanku, mungkin aku tak akan pernah mengalami kegalauan seperti retaknya sebuah bejana keramik. Haruskah aku berprasangka pada semua nikmat yang Engkau berikan? Haruskah aku membenci dan memusuhi masa ketika aku tak pernah sanggup memiliki semua yang aku inginkan? Haruskah aku membenci masa lalu dan kesalahan yang bahkan tidak aku lakukan.
Aku lelah.. Lelah menjadi sebuah menara yang tinggi, yang harus memberikan kesejukan untuk orang-orang yang datang kepadanya. Harus mampu melindungi setiap musafir yang kelelahan dari teriknya sinar matahari. Aku lelah diperlakukan terlalu istimewa. Aku hanya ingin menjadi manusia biasa, yang bisa menjaga cintanya. Bisa meraih apa yang diinginkannya, bisa mempunyai apa yang selama ini menjadi impiannya. Mengapa semakin banyak yang aku punya, aku justru semakin banyak kehilangan? Haruskah aku menghujat takdir-Mu yang Maha Indah? Aku hanya mencintai dan memilikinya, bukan dalam keadaan gamang yang tak berkesudahan. Apakah aku salah ketika aku mencintainya? Apakah aku bukan lagi pejuangmu ketika aku menyimpannya dalam relung kalbuku?
Wahai Pemilik Cinta, mengapa Kau pilihkan dia untuk hadir dalam hidupku ketika aku tidak mungkin memilikinya? Aku mencintainya Wahai Rabbku. Aku hanya ingin Kau halalkan cinta ini untuknya, bukan untuk yang lain. Bukan pula untuk orang yang mampu ku hormati sebagai sahabatku.
Aku mencintainya Rabb. Aku mencintai dan menyayanginya dengan semua cinta yang Kau karuniakan ke dalam hatiku. Dengan semua kasih sayang yang Kau hadirkan dalam jiwaku. Tetapi salahkah cinta itu saat ini? Ya Rabb, mengapa setiap malamku seolah bergerak tanpa nyawa? Tak ada lagi mimpi indah yang menenangkan, hanya kegelapan tanpa ujung. Ya Rabb, bolehkah aku bertanya? Apa kehendak takdir yang tertuang dalam bahasa jiwa? Apakah salah sebuah keyakinan? Aku berdiri atas nama-Mu, aku bergerak atas ridho-Mu, Aku menangis atas rencana-Mu. Aku mohon, bahagiakan aku dengan Cinta-Mu.
Wahai Tuhan, seandainya aku dapat mengintip sedikit takdir-Mu.. Pasti semua akan mampu menghapus isakku. Aku hanya ingin bertahan. Bertahan pada sebuah keyakinan bahwa semua doa yang ku panjatkan pada-Mu tak pernah salah. Doa yang bergemuruh dari gejolak jiwa dimana hanya Engkau dan aku yang tahu dan hanya Engkau yang dapat mengerti.
Wahai kau manusia pemilik hatiku, dalam setip ucapan doa selalu ada namamu yang terbingkai indah, tapi mengapa engkau tak dapat memahaminya? Wahai kau manusia pemilik hatiku, hampir setiap tarikan napasku selalu ada huruf-huruf yang tersusun atas namamu, tapi mengapa engkau tak dapat membacanya? Aku akan terus melangkah melawan arah meski kenyataan takdir terus menampar. Apakah cintaku salah? Aku mulai lelah bertanya dan melawan, kini sampai pada sebuah keyakinan.. Kau memang milikku. Tangan-Nya sendiri yang akan mengantarmu padaku. Dengan cara-Nya dan dengan waktu-Nya. Aku mencintaimu dalam kehidupan nyata dan juga mimpiku.
Wahai Tuhan Pemilik Hati, aku tahu Kau tak tidur. Maka, semua ku kembalikan kepada-Mu. Kaulah sebaik-baiknya penjaga. Kumohon jaga ia dalam setiap waktunya. Kumohon jaga ia dalam setiap rapuhnya. Kumohon yakinkan hatinya, bahwa aku selalu mencintainya.
(Menara Cinta, 2019)
Ya Allah.. Jadikanlah aku ikhlas pada keputusan-Mu hingga aku tidak mempercepat sesuatu yang Engkau tunda dan tidak menunda sesuatu yang Engkau segerakan. Ya Rabbul Izzati.. Cintakanlah aku kepada seseorang yang juga mencintai-Mu, yang Engkau cintai, sehingga ia akan membimbingku untuk selalu mencintai-Mu. Ya Rahman, Ya Rahiim.. Jika ia belum menemukanku, buatlah ia menunggu di situ, dan biarkan aku menemukannya dalam istikharahku.
Wahai Tuhan Pemilik Hati.. Seandainya aku mampu sebentar saja melihat catatan kehidupanku, mungkin aku tak akan pernah mengalami kegalauan seperti retaknya sebuah bejana keramik. Haruskah aku berprasangka pada semua nikmat yang Engkau berikan? Haruskah aku membenci dan memusuhi masa ketika aku tak pernah sanggup memiliki semua yang aku inginkan? Haruskah aku membenci masa lalu dan kesalahan yang bahkan tidak aku lakukan.
Aku lelah.. Lelah menjadi sebuah menara yang tinggi, yang harus memberikan kesejukan untuk orang-orang yang datang kepadanya. Harus mampu melindungi setiap musafir yang kelelahan dari teriknya sinar matahari. Aku lelah diperlakukan terlalu istimewa. Aku hanya ingin menjadi manusia biasa, yang bisa menjaga cintanya. Bisa meraih apa yang diinginkannya, bisa mempunyai apa yang selama ini menjadi impiannya. Mengapa semakin banyak yang aku punya, aku justru semakin banyak kehilangan? Haruskah aku menghujat takdir-Mu yang Maha Indah? Aku hanya mencintai dan memilikinya, bukan dalam keadaan gamang yang tak berkesudahan. Apakah aku salah ketika aku mencintainya? Apakah aku bukan lagi pejuangmu ketika aku menyimpannya dalam relung kalbuku?
Wahai Pemilik Cinta, mengapa Kau pilihkan dia untuk hadir dalam hidupku ketika aku tidak mungkin memilikinya? Aku mencintainya Wahai Rabbku. Aku hanya ingin Kau halalkan cinta ini untuknya, bukan untuk yang lain. Bukan pula untuk orang yang mampu ku hormati sebagai sahabatku.
Aku mencintainya Rabb. Aku mencintai dan menyayanginya dengan semua cinta yang Kau karuniakan ke dalam hatiku. Dengan semua kasih sayang yang Kau hadirkan dalam jiwaku. Tetapi salahkah cinta itu saat ini? Ya Rabb, mengapa setiap malamku seolah bergerak tanpa nyawa? Tak ada lagi mimpi indah yang menenangkan, hanya kegelapan tanpa ujung. Ya Rabb, bolehkah aku bertanya? Apa kehendak takdir yang tertuang dalam bahasa jiwa? Apakah salah sebuah keyakinan? Aku berdiri atas nama-Mu, aku bergerak atas ridho-Mu, Aku menangis atas rencana-Mu. Aku mohon, bahagiakan aku dengan Cinta-Mu.
Wahai Tuhan, seandainya aku dapat mengintip sedikit takdir-Mu.. Pasti semua akan mampu menghapus isakku. Aku hanya ingin bertahan. Bertahan pada sebuah keyakinan bahwa semua doa yang ku panjatkan pada-Mu tak pernah salah. Doa yang bergemuruh dari gejolak jiwa dimana hanya Engkau dan aku yang tahu dan hanya Engkau yang dapat mengerti.
Wahai kau manusia pemilik hatiku, dalam setip ucapan doa selalu ada namamu yang terbingkai indah, tapi mengapa engkau tak dapat memahaminya? Wahai kau manusia pemilik hatiku, hampir setiap tarikan napasku selalu ada huruf-huruf yang tersusun atas namamu, tapi mengapa engkau tak dapat membacanya? Aku akan terus melangkah melawan arah meski kenyataan takdir terus menampar. Apakah cintaku salah? Aku mulai lelah bertanya dan melawan, kini sampai pada sebuah keyakinan.. Kau memang milikku. Tangan-Nya sendiri yang akan mengantarmu padaku. Dengan cara-Nya dan dengan waktu-Nya. Aku mencintaimu dalam kehidupan nyata dan juga mimpiku.
Wahai Tuhan Pemilik Hati, aku tahu Kau tak tidur. Maka, semua ku kembalikan kepada-Mu. Kaulah sebaik-baiknya penjaga. Kumohon jaga ia dalam setiap waktunya. Kumohon jaga ia dalam setiap rapuhnya. Kumohon yakinkan hatinya, bahwa aku selalu mencintainya.
(Menara Cinta, 2019)
Komentar
Posting Komentar